.RU

Pernah menjadi salah satu kekuatan besar komunisme dunia. Kelahiran pki pada tahun 1920an adalah kelanjutan fase awal dominasi komunisme di negara tersebut

Indonesia dan komunisme



Indonesia pernah menjadi salah satu kekuatan besar komunisme dunia. Kelahiran PKI pada tahun 1920an adalah kelanjutan fase awal dominasi komunisme di negara tersebut, bahkan di Asia. Tokoh komunis nasional seperti Tan Malaka misalnya. Ia menjadi salah satu tokoh yang tak bisa dilupakan dalam perjuangan di berbagai negara seperti di Cina, Indonesia, Thailand, dan Filipina. Bukan seperti Vietnam yang mana perebutan kekuatan komunisme menjadi perang yang luar biasa. Di Indonesia perubuhan komunisme juga terjadi dengan insiden berdarah dan dilanjutkan dengan pembantaian yang banyak menimbulkan korban jiwa. Dan tidak berakhir disana, para tersangka pengikut komunisme juga diganjar eks-tapol oleh pemerintahan Orde Baru dan mendapatkan pembatasan dalam melakukan ikhtiar hidup mereka.

Sejarah Komunisme Di Indonesia



Komunisme di Indonesia memiliki sejarah yang kelam, kelahirannya di Indonesia tak jauh dengan hadirnya para orang-orang buangan dari Belanda ke Indonesia dan mahasiswa-mahasiswa jebolannya yang beraliran kiri. Mereka di antaranya Sneevliet, Bregsma, dan Tan Malaka (yang terahir masuk setelah SI Semarang sudah terbentuk). Alasan kaum pribumi yang mengikuti aliran tersebut dikarenakan tindakan-tindakannya yang melawan kaum kapitalis dan pemerintahan, selain itu iming-iming propaganda PKI juga menarik perhatian mereka. Gerakan Komunis di Indonesia diawali di Surabaya, yakni di dalam diskusi intern para pekerja buruh kereta api Surabaya yang dikenal dengan nama VSTP. Awalnya VSTP hanya berisikan anggota orang Eropa dan Indo Eropa. saja, namun setelah berkembangnya waktu, kaum pribumi pun ikut di dalamnya. Salah satu anggota yang menjadi besar adalah Semaoen kemudian menjadi ketua SI Semarang. Komunisme Indonesia mulai aktif di Semarang, atau sering disebut dengan Kota Merah setelah menjadi basis PKI di era tersebut. Hadirnya ISDV dan masuknya para pribumi berhaluan kiri ke dalam SI (Sarekat Islam) menjadikan komunis sebagian cabangnya karena hak otonomi yang diciptakan Pemerintah Hindia Belanda atas organisasi lepas menjadi salah satu ancaman bagi pemerintah. ISDV menjadi salah satu organisasi yang bertanggung jawab atas banyaknya pemogokan buruh di Jawa. Konflik dengan SI pusat di Yogyakarta membuat personel organisasi ini keluar dari keanggotaan SI, setelah disiplin partai atas usulan Haji Agus Salim disahkan oleh pusat SI. Namun ISDV yang berganti nama menjadi PKI semakin kuat saja dan di antara pemimpin mereka dibuang keluar Hindia Belanda. Kehancuran PKI fase awal ini bermula dengan adanya Persetujuan Prambanan yang memutuskan akan ada pemberontakan besar-besaran di seluruh Hindia Belanda. Tan Malaka yang tidak setuju karena komunisme di Indonesia kurang kuat mencoba menghentikannya. Namun para tokoh PKI tidak mau menggubris usulan itu kecuali mereka yang ada di pihak Tan Malaka. Pemberontakan itu terjadi pada tahun 1926-1927 yang berakhir dengan kehancuran PKI dengan mudah oleh pemerintah Hindia Belanda. Para tokoh PKI menganggap kegagalan itu karena Tan Malaka mencoba menghentikan pemberontakan dan memengaruhi cabang PKI untuk melakukannya.

Gerakan PKI lahir pula pada masa Perang Kemerdekaan Indonesia yang diawali oleh kedatangan Muso secara misterius dari Uni Sovyet ke Negara Republik (Saat itu masih beribu kota di Yogyakarta). Sama seperti Soekarno dan tokoh pergerakan lain, Muso berpidato dengan lantang di Yogyakarta dengan kepercayaannya yang murni komunisme. Disana ia juga mendidik calon-calon pemimpin PKI seperti D.N. Aidit. Musso dan pendukungnya kemudian menuju ke Madiun. Disana ia dikabarkan mendirikan Negara Indonesia sendiri yang berhalauan komunis. Gerakan ini didukung oleh salah satu menteri Soekarno, Amir Syarifuddin yang tidak jelas ideologinya. Divisi Siliwangi akhirnya maju dan mengakhiri pemberontakan Muso ini. Beberapa ilmuwan percaya bahwa ini adalah konflik intern antarmiliter Indonesia pada waktu itu.

Pasca Perang Kemerdekaan Indonesia tersebut PKI menyusun kekuatannya kembali. Didukung oleh Soekarno yang ingin menyatukan semua aspek masyarakat Indonesia saat itu, dimana antar ideologi menjadi musuh masing-masing, PKI menjadi salah satu kekuatan baru dalam politik Indonesia. Permusuhan itu tidak hanya terjadi di tingkat atas saja, melainkan juga di tingkat bawah dimana tingkat anarkisme banyak terjadi antara tuan tanah dan para kaum rendahan. Namun Soekarno menjurus ke kiri dan menganak-emaskan PKI. Akhirnya konflik dimana-mana terjadi. Ada suatu teori bahwa PKI dan militer yang bermusuhan akan melakukan kudeta. Yakni PKI yang mengusulkan Angkatan Perang Ke 5 (setelah AURI, ALRI, ADRI dan Kepolisian) dan isu penyergapan TNI atas Presiden Soekarno saat ulang tahun TNI. Munculah kecurigaan antara satu dengan yang lain. Akhirnya dipercaya menjadi sebuah insiden yang sering dinamakan Gerakan 30 September.

Ada kemungkinan Indonesia menjadi negara komunis andai saja PKI berhasil berkuasa di Indonesia. Namun hal tersebut tidak menjadi kenyataan setelah terjadinya kudeta dan peng-kambing hitaman komunisme sebagai dalang terjadinya insiden yang dianggap pemberontakan pada tahun 1965 yang lebih dikenal dengan Gerakan 30 September. Hal ini juga membawa kesengsaraan luar biasa bagi para warga Indonesia dan anggota keluarga yang dituduh komunis meskipun belum tentu kebenarannya. Diperkirakan antara 500.000 sampai 2 juta jiwa manusia dibunuh di Jawa dan Bali setelah peristiwa Gerakan 30 September. Hal ini merupakan halaman terhitam sejarah negara Indonesia. Para tertuduh yang tertangkap kebanyakan tidak diadili dan langsung dihukum. Setelah mereka keluar dari ruang hukuman mereka, baik di Pulau Buru atau di penjara, mereka tetap diawasi dan dibatasi ruang geraknya dengan penamaan Eks Tapol.

Semenjak jatuhnya Presiden Soeharto, aktivitas kelompok-kelompok komunis, marxis, dan haluan kiri lainnya mulai kembali aktif di lapangan politik Indonesia, walaupun belum boleh mendirikan partai karena masih dilarang oleh pemerintah.

Komunisme di Indonesia



Era pre-Perang Kemerdekaan RI



Pascaperang Perang Kemerdekaan RI



Setelah Dekrit Presiden pada 5 Juli 1959, politik luar negeri Indonesia cenderung lebih condong ke Blok Timur (Blok Komunis). Mengapa seperti itu? Karena Indonesia lebih banyak melakukan kerja sama dengan negara komunis seperti Uni Soviet, Kamboja, Vietnam, RRC, maupun Korea Utara. Berikut ini adalah langkah-langkah politik luar negeri Indonesia pada masa Demokrasi Terpimpin: Presiden Soekarno menyampaikan pandangan politik dunia yang berlawanan, yaitu OLDEFO (Old Established Forces), dan NEFO (New Emerging Forces), Indonesia membentuk Poros Jakarta-Peking dan Poros Jakarta-Phnompenh-Hanoi-Peking-Pyongyang yang membuat Indonesia termasuk dalam Negara Blok Timur, Konfrontasi dengan Malaysia yang berujung dengan keluarnya Indonesia dari PBB.

Apakah Komunisme Telah Mati?



Banyak orang yang mengira komunisme 'mati' dengan bubarnya Uni Soviet di tahun 1991, yang diawali dengan keputusan Presiden Mikhail Gorbachev. Namun komunisme yang murni belum pernah terwujud dan tak akan terwujud selama revolusi lahir dalam bentuk sosialisme (Uni Soviet dan negara-negara komunis lainnya). Dan walaupun komunis sosialis hampir punah, partai komunis tetap ada di seluruh dunia dan tetap aktif memperjuangkan hak-hak buruh, pelajar dan anti-imperialisme. Komunisme secara politis dan ekonomi telah dilakukan dalam berbagai komunitas, seperti Kepulauan Solentiname di Nikaragua.

Seperti yang digambarkan Anthony Giddens, komunisme dan sosialisme sebenarnya belum mati. Ia akan menjadi hantu yang ingin melenyapkan kapitalisme selamanya. Saat ini di banyak negara, komunisme berubah menjadi bentuk yang baru. Baik itu Kiri Baru ataupun komunisme khas seperti di Kuba dan Vietnam. Di negara-negara lain, komunisme masih ada di dalam masyarakat, namun kebanyakan dari mereka membentuk oposisi terhadap pemerintah yang berkuasa.

Indonesia and communism
Indonesia had become one of the great powers of the world communism. The birth of the CPI in the 1920s is a continuation of the initial phase of the domination of communism in the country, even in Asia. National Communist leaders such as Tan Malaka. He became one of the characters that can not be forgotten in the struggle in various countries such as China, Indonesia, Thailand, and Philippines. It's not like Vietnam where the power struggle of communism into an extraordinary war. Perubuhan communism in Indonesia is also the case with the incident and continued with the bloody massacre of many lives. And does not end there, the suspects were followers of communism was also rewarded by ex-political prisoner and the New Order government to endeavor to get the restrictions in their lives.
History of Communism in Indonesia
Communism in Indonesia has a dark history, was born in Indonesia is not much by the presence of the exiles from the Netherlands to Indonesia and the students jebolannya leftist. They include Sneevliet, Bregsma, and Tan Malaka (which the last entry after SI has been formed Semarang). The reason the natives that the flow is due to his actions against the capitalists and the government, besides the lure of propaganda PKI also attract their attention. Communist movement began in Surabaya in Indonesia, namely in the internal discussions railway workers unions Surabaya known as VSTP. VSTP initially contains only members of the European and the Indo Europeans. only, but after the development time, the natives had come in it. One of the members who make it big is Semaoen later became chairman of the SI Semarang. Communism was active in Semarang Indonesia, often called the Red City after a CPI basis in that era. ISDV presence and influx of left-leaning indigenous to the SI (SI Islam) made the communist some branches because the government created the right to autonomy over the organization off the Dutch East Indies became one threat to the government. ISDV be one organization that is responsible for a large number of labor strikes in Java. Conflict with the SI center in Yogyakarta to make personnel of this organization out of SI membership, following the suggestion of party discipline Haji Agus Salim SI was passed by the center. However ISDV which changed its name to the more powerful PKI alone and among their leaders expelled the Dutch East Indies. PKI is the destruction of the initial phase began with the approval of Prambanan who decided there will be a major revolt throughout the Dutch East Indies. Tan Malaka who do not agree because of communism in Indonesia to try to stop it less powerful. But the leaders did not want menggubris PKI proposal except those at the Tan Malaka. The mutiny occurred in the year 1926-1927 which ended with the destruction of the PKI with ease by the Dutch. PKI leaders consider it a failure because of Tan Malaka tried to stop the rebellion and the influence of the PKI branch to do so.
PKI movement also born during the War of Independence Indonesia that began with the arrival of the mysterious Muso from the Soviet Union to the Republic (It was still a thousand cities in Yogyakarta). Just like Sukarno and other movement leaders, Muso spoke loudly in Yogyakarta with the belief that pure communism. There he also educate prospective leaders such as PKI DN Aidit. Musso and his supporters then headed to Madison. There he founded the State of Indonesia is rumored to own a communist berhalauan. This movement is supported by one of Sukarno's ministers, Amir Syarifuddin vague ideology. Siliwangi Division finally go ahead and put an end to this rebellion Muso. Some scientists believe that this is an internal conflict antarmiliter Indonesia at that time.
After the War of Independence PKI Indonesia is preparing his strength back. Powered by Sukarno who wanted to unite all aspects of Indonesian society at the time, where between the ideology of the enemy of each, PKI became one of the new force in Indonesian politics. Hostility was not only occur at top level, but also at lower levels where there are many levels of anarchism between landlords and the lowly. But leads to the left and the Soekarno-emaskan menganak PKI. Finally, conflict is a ubiquitous. There is a theory that the PKI and hostile military would stage a coup. Namely the proposed Armed Forces of the PKI to 5 (after the Air Force, Navy, Adri and Police) and the issue of military raid on the anniversary of President Soekarno TNI. Came the suspicion of one another. Finally, believed to be an incident that is often called the September 30th Movement.
There is the possibility of Indonesia into the communist country if only the ruling Communist Party succeeded in Indonesia. But it does not become a reality after the coup and self-victimization of communism as the mastermind behind the goat incident is considered rebellion in 1965, better known as the September 30th Movement. It has also brought tremendous suffering to the citizens of Indonesia and the family members of alleged communists although not necessarily the truth. It is estimated between 500,000 to 2 million people were killed in Java and Bali after the events of September 30th Movement. This is the blackest page of history of Indonesia. The defendants are caught mostly on trial and not immediately punished. After they came out of their punishment, both on the island of Buru, or in prison, they are still monitored and restricted its movement by naming former political prisoner.
Since the fall of President Soeharto, the activity of groups of communists, Marxists, and others left the bow began to re-active in the political field Indonesia, although not yet be established because the party was banned by the government.
Communism in Indonesia
Pre-War era Independence
Postwar Independence War
After the Presidential Decree on July 5, 1959, Indonesia's foreign policy tends to be biased toward the Eastern Bloc (Communist Bloc). Why is that? Due to Indonesia to do more work with the communist countries like the Soviet Union, Cambodia, Vietnam, the PRC, as well as North Korea. The following are the steps Indonesia's foreign policy during the Guided Democracy: President Sukarno expressed the opposite view of world politics, namely OLDEFO (Old Established Forces), and NEFO (New Emerging Forces), Indonesia established the Jakarta-Peking Axis and Axis-Jakarta Phnompenh-Hanoi-Peking-Pyongyang makes Indonesia, including in the Eastern Bloc countries, Malaysia Confrontation with Indonesia that led to the release of the UN.
Is Communism Dead Have?
Many people who thought communism 'die' with the dissolution of the Soviet Union in 1991, which begins with the decision of President Mikhail Gorbachev. But that pure communism has never materialized and will not be realized during the revolution was born in the form of socialism (Soviet Union and other communist countries). And although almost extinct communist socialist, communist parties still exist around the world and remains on the rights of workers, students and anti-imperialism. Communism is politically and economically has been done in various communities, such as Solentiname Islands in Nicaragua.
As described Anthony Giddens, communism and socialism is actually not dead. He will be a ghost who wants to destroy capitalism forever. Currently in many countries, communism has turned into a new shape. Both the New Left as a typical or communism in Cuba and Vietnam. In other countries, communism still exists in society, but most of them form the opposition to the ruling government.Дадаць дакумент у свой блог ці на сайт 2010-07-19 18:44 Читать похожую статью
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • © Помощь студентам
    Образовательные документы для студентов.